- REVIEW BUKU – Petjah: Satu dari Seribu, Aku Mau Kamu Karya Oda Sekar Ayu

 

Judul : PETJAH
Penulis : Oda Sekar Ayu
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Terbit : 2017
ISBN : 9786020295954
Jumlah Halaman: 328
Bahasa : Indonesia 

Hai, kembali lagi bersama Ini Tamala. Kali ini aku akan bahas soal novel yang berjudul Petjah. Mungkin teman-teman pembaca udah berkali-kali lihat buku ini direkomendasikan oleh kalangan pembaca yang lain, seperti aku misalnya.

Jika teman-teman ingin membaca bacaan yang memiliki tema seperti mengenang masa lalu, memaafkan diri, dan penulisan puisi menjadi satu, maka ini adalah buku yang tepat. Apalagi bumbu romantisme anak muda yang juga menjadi plot para tokohnya sehingga selain problem kehidupan yang dibahas, masih diselingi manisnya kehidupan yang tidak lain dari roman itu sendiri.

Cerita ini dimulai dengan latar sekolah menengah unggulan, seorang siswi akselerasi yaitu Nadhira yang menyukai Dimas yang adalah teman sekelasnya. Namun pada saat itu, Dimas tidak menyukai Nadhira sama sekali hingga suatu hari Dimas berubah dan menjadi teman yang dekat dengan Nadhira. Dalam kedekatannya dengan Dimas, hujan di bulan Juli memberikan takdir yang aneh. Nadhira juga didekati oleh Biru yang notabenenya siswa pentolan yang memimpin tawuran antar sekolah. Dibalik kelakuannya yang kasar dan keras, ternyata Biru memiliki alasan dan masa lalu yang pelik hingga membentuk dirinya yang sekarang ini.

Untuk lebih jelas sinopsisnya dapat dibaca di bawah ini.

SINOPSIS

Nadhira menyayangi Dimas, tetapi Dimas membenci Nadhira. Semesta menyayangi Nadhira dan memberinya satu permintaan untuk dikabulkan. Nadhira meminta Dimas beserta hatinya. Permintaan pun dikabulkan semesta.
Kemudian hadir satu orang lagi dalam permainan ini. Biru. Biru menyayangi Nadhira, namun bisakah Nadhira menyayangi Biru?

Satu dari seribu, aku mau kamu. 
 Adalah puisi hati Nadhira untuk cinta pertamanya.

Satu dari seribu, memang harus kamu. 
 Adalah sepenggal puisi harapan Biru untuk masa depannya.
Semesta mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya petjah.

KELEBIHAN

Dalam dialog-dialognya, khususnya Dimas dan Nadhira sangat menyentuh dan unik karena menggunakan perumpamaan fisika hingga kimia dalam menyampaikan hal yang diutarakannya. Jadi untuk mencerna inti pembicaraan, kita juga menyimak perumpamaan tersebut dan sedikit berpikir. Hal tersebut juga termasuk selingan sendiri menurutku, agar tidak bosan dengan jalannya cerita.

Novel ini juga menyajikan puisi-puisi yang begitu menyentuh karena amat menggambarkan perasaan tokoh yang disampaikan yang tak lain adalah Nadhira dan Biru sendiri yang kata-kata indah adalah keahlian dan bakat mereka. Saat mereka berkomunikasi dengan perumpamaan dan kata-kata yang indah, segala hal terasa indah dan menyayat saat disampaikan. Ini menyenangkan untuk diturut.

KEKURANGAN

Saat membaca novel ini, aku pribadi agak tidak nyaman atau perlu menyesuaikan diri dengan penggunaan kata ganti yang tiba-tiba dari aku-kamu menjadi saya-kamu dan sebaliknya. Hal ini aku temui pada beberapa dialog antara Nadhira dengan Biru dan Biru dengan Tante Bee.

KESIMPULAN

Jika teman-teman pembaca yang lain menganggap buku ini bertemakan cinta segi tiga, aku pikir hal tersebut bukan garis besarnya di novel ini. Menurutku, buku ini menceritakan hal yang lebih dari cinta segi tiga, cinta yang dibahas di sini lebih besar dan lebih kuat dari itu. Di mana tidak ada kata cemburu, yang ada adalah seberapa besar cinta itu sehingga kamu bisa menghormati dan menghargai keberadaan satu sama lain? Seberapa besar cinta itu sehingga kamu bisa mengikhlaskan kepergiannya dan jujur kepada diri sendiri? Aku pribadi memang kurang suka dengan buku yang terlalu dalam membahas soal kehidupan, tapi buku ini terlalu bagus penyampaiannya sehingga sayang untuk dilewatkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

- REVIEW BUKU - POSTCRIPTION Karya ANTON TANJUNG

- REVIEW BUKU - Panduan Jarak Sosial di Tempat Kerja Sehari-hari Introver dan Kaum Mager karya Lucia Priandarini